Rabu, 17 Mei 2017

Semenjak Saya Menyukaimu

Jam di hapeku menunjukkan pukul 01.07 am. Yang lain sudah tidur. Tinggal saya yang masih terjaga. Pikiranku melayang, tak tentu arah. Mungkin mencarimu. Hahaha

Saya sering berpikir, seandainya di sini tersedia jaringan, mungkin kamu sudah menelponku, sms, dan sebagainya. Ahhh... tak lama kemudian, ku bendung lagi pikiranku. Mana mungkin kamu akan menghubungiku. Apalah arti diriku bagimu.

Hampir setiap hari, bahkan dalam sehari, mungkin tak terhitung jari waktu yang kuhabiskan untuk meladeni bayanganmu yang terlintas dalam benakku. Saya berpikir lagi, mungkin Tuhan memang sudah mentakdirkan kita. Kalau tidak, untuk apa Dia selalu menghadirkanmu dalam pikiranku. Tak lama kemudian, pikiran lain tiba-tiba muncul. Ahhh... itu bukan kehendak Tuhan, itu hanya harapanmu saja. Jangan libatkan Tuhan dalam hal ini.

Kurang lebih seperti itulah pikiranku selama satu tahun belakangan ini. Bukan, semenjak saya menyukaimu.

Jumat, 03 Februari 2017

Bocah Tanpa Tujuan

Hei bocah!!! Apa yang kau harapkan dari hidup ini? Apakah dalam hatimu masih punya cita2? Apakah kamu benar2 ingin menggapainya? Apa tujuanmu ke sekolah setiap hari? Bangun pagi buta, menghabiskan uang jajan yg mungkin berliter2 orangtuamu cucurkan keringat utk memperolehnya, duduk diam di dalam kelas yg sumpek, tanpa ada sedikit pun sesuatu yg bisa kau bawa pulang.

Saya curiga, kamu hanya ikut2an. Saya curiga, kamu hanya kebosanan di rumah. Saya curiga, kamu hanya menghindari pekerjaan rumah yg melelahkan.

Hei bocah!!! Setidaknya kalau otakmu tumpul, dengarkanlah nasehat gurumu. Setidaknya kalau kau tidak suka belajar, ada pekerti baik yg melekat di dirimu.

Senin, 19 Desember 2016

Bagaimana Denganmu?

Di sini, di Desa Lawey. Saat ujian semester telah selesai. Saat nilai-nilai telah rampung. Saat buku rapor telah dibagikan. Saat tak tahu harus sibuk apa lagi. Di situlah masa jenuhnya seorang guru daerah 3T.

Kini rindu mulai menyapa. Perlahan memeluk. Memeluk renggang kemudian semakin mengerat. Ku dengar kabar gembira bahwa mama akan datang menjenguk. Terselesaikanlah satu masalah rindu. Yakni rindu akan keluarga.

Kini rindu yang lain semakin terasa. Rindu akan seseorang yang pernah memonopoli pikiran. Rindu akan sahabat sedikit terobati dengan panggilan suara atau video. Tapi ini berbeda.

Bukankah obat dari rindu itu adalah bertemu? Yah... aku terlalu malu. Menelponnya saja sudah terlalu gengsi. Menunggu dia untuk melakukan itu? Sepertinya tidak mungkin.

Lalu apa yang aku harapkan darinya? Aku tidak tahu. Aku hanya mencoba mengendalikan pikiranku untuk tidak terlalu berharap kepadanya. Hanya saja... disaat seperti ini, rindu akan dirinya selalu sangat terasa. Semoga secepatnya Tuhan memberikan solusi yang terbaik. Aamiin.

Aku hanya ingin kau tahu bahwa rasa ini masih saja terus menyiksa. Bagaimana denganmu?

Sabtu, 10 Desember 2016

Zona Buruk

Yahh... entah harus berkata apa. Saya sekarang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Sebenarnya bisa setiap pekan ke kota tapi mungkin sudah terlalu nyaman di sini, di tempat ini, di desa Lawey.

Sebelum di tempatkan di sini, sebelum semua ini terjadi. Saya berfikir untuk keluar dari zona nyamanku. Keluar dari dunia hedonku. Keluar dari kamar malasku. Tapi ternyata saya salah. Keluar dari zona nyaman bukan berarti harus menderita. Di sini bahkan terlalu nyaman.

Hanya mungkin sesuatu dan lain hal sedikit yang membuat saya rindu dengan keluarga. Itu saja, selebihnya tidak. Hidup di sini, di desa ini selama setahun sepertinya akan memberikan banyak pelajaran hidup untuk saya.

Belajar sabar, belajar ikhlas, belajar mengalah, belajar menahan amarah, belajar hidup sederhana, dan yang utama belajar untuk selalu bersyukur.

Keluar dari zona nyaman bagi saya, berusaha untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Bukankah yang   buruk-buruk itu sangat nyaman untuk dikerjakan? Bukan sekedar keluar dari kenyamanan. Hanya orang-orang yang bodoh mungkin yang mencari kesusahan.

Iya sihh... Mungkin dari segi bahasanya saja yang kurang tepat. Kurang tepat kalau kita bilang zona nyaman. Kan kita meninggalkan keburukan. Jadi, mungkin sebaiknya dikatakan saja zona buruk. Ahhhh kacau...

Ambil Positifnya Saja

Sekarang saya ingin menceritakan sebagian kecil hal-hal menarik di pulau ini. Saya mulai dari kenyataan bahwa d pulau ini khususnya d desa penempatan saya, desa lawey wawonii selatan. Di sini tidak ada jaringan. Ohmegatt... tapi yah, saya memang sudah memperkirakan jauh-jauh hari sebelum saya mendaftar program ini. Dengan begitu saya memang sudah menyiapkan mental maupun fisik utk bertahan hidup tanpa internet, medsos, dan lain-lain yg berhubungan dengan dunia semu. Dunia yg membawa generasi bangsa (terkhusus utk saya sendiri) menuju zona jahiliyah, zona kemalasan. Saya menyebutnya begitu karena sebenarnya internet banyakan dampak negatifnya (bagi saya sendiri) dibanding dampak positifnya. Bagaimana tidak, klu saya sudah berhadapan dengn internet, apapun sy tak acuhkan. Sampai-sampai mandi pun terkadang dalam sehari saya lewatkan, shalat di akhir waktu (astagfirullah).

Kembali ke topik bahasan. Dan saya bersyukur d sini tidak ada jaringan. Itu berarti saya mengucapkan "Selamat Datang dunia kerja keras".

Yah di sini tidak ada jaringan. Yah, mau bagaimana lagi. Harus tetap menerima segala kenyataan yang ada. Meskipun sebenarnya dalam hati masih mengatakan "jauh lebih baik kalau ada jarigan" (hahaha dasarrrr).

Oke kembali lagi. Kita sudahi saja pembahasan jaringannya. Yah itu salah satu hal yang menarik d desa ini. Bukan tidak ada sih sebenarnya. Jaringan mah ada, tapi hanya d pinggir pantai d bawah sebuah pohon kelapa. Itu pun klu sudah angin kencang, jaringannya pun kabur. Ini jaringan seluler yahhh bukan jaringan internet. Jadi yah klu mau nelpon hrus manjat-manjat dulu. Yah lumayan lah jadi kenangan yg tak terlupakan setelah saya meninggalkan desa ini.

Hal yang menarik berikutnya adalah nama. Bicara soal nama, nama orang-orang di sini lumayan unik. Ala ala barat gitu. Awalnya saya mengira penduduk d sini banyak yg non muslim karena namanya yg unik itu. Saya kasih contoh : edgar hary, viras yuspalina, yustin, delpin, jefri, petri, brian, ending, dan masih banyak lagi yg lain.

Masih soal nama. Nama panggilan mereka pun unik-unik. Sangat bertolak belakang nama panggilan dengan nama asli. Alias tidak nyambung. Saya beri contoh lagi: Abdullah Agaffar dipanggil Rames, Harnawati dipanggil Lika, Akmal dipanggil Dendun, Ardiansyah dipanggil Bimbi, Zahra dipanggil Ade. Nyambung dari mana coba... yah silahkan dipikir sendiri.

Berpaling dari nama, kita beralih ke laut. Sungguh anugerah dari Yang Maha Kuasa. Saya patut bersyukur untuk semua keindahan alam yang tersaji di pulau ini. Jangankan pemandangannya, sumber daya alamnya pun berlimpah ruah. Mulai dari jambu monyet (mente), kelapa, pala, ubi, keladi, dan masih banyak yg lain. Saya ingin bercerita tentang sumber daya yang berhubungan dengan laut. Boleh saya bilang ikan. Hahaha

Pernah suatu hari meti (air surut). Terdengar suara dari belakang rumah memanggil-manggil sambil berteriak "bu guru... bu guruuuu, cepatki. Ayo turun ke laut kasian, banyaknya ikan. Itu sudah rame d sana.

Saya berpikir, di pantai ada nelayan yg baru pulang dari mancing dan hasil tangkapannya lumayan banyak sehingga banyak yg mengerumuni untuk membelinya. Ternyata... masya Allah. Saya tengok ke laut, dari kejauhan ikan sudah seperti serangga kecil yang berlompat-lompatan. Saya langsung turun ke laut. Berteriak kegirangan. Baru kali ini bisa tangkap ikan dengan tangan kosong. Bagaimana tidak, ikannya sudah oleng karena kekurangan oksigen akibat air laut yang surut dan ruang gerak mereka terbatas karena sebagian daerah sudah tak ber-air.

Tak perlu susah payah kejar sana-sini. Bahkan hanya sekali melangkah, satu atau dua ikan selebar 2 jari sudah ada di bawah kaki alias terinjak. Jadi harus hati-hati melangkah. Takut ikannya keinjak. Dan eitsss tak perlu takut kehabisan... ikan yg terjebak jumlahnya ribuan mungkin jutaan atau apalah, pokoknya berlimpah ruah. Satu kampung penduduk turun ke laut, masing-masing bawa pulang 2 atau 3 saringan besar. Silahkan imajinasikan sendiri banyaknya. Jadi tak perlu berebut bahkan karena banyak siswa yg turun, saya hanya bermain-main dengan ikan. Merekalah yang menangkapkan saya ikan sampai jumlahnya 2 saringan besar.

Sabtu, 03 Desember 2016

Mulai Nyoret Lagi

Baru hari ini saya mulai nyoret lagi. Mungkin karena saya sudah mulai rindu dengan kampung halaman, mama, ukasyah, mush'ab, kharimah, sahabat tercinta dan semua kehidupanku sebelum ini. Mungkin juga karena mulai jenuh. Jenuh dengan keadaan, jenuh dengan masalah, jenuh dengan anak-anak (yg notabenenya siswa saya sendiri) dan semua yang ada d sini.

Hanya satu mungkin yg tidak membuat saya jenuh. Laut, pemandangan langit. Sungguh anugerah terhebat dari Yang Maha Kuasa.

Oia... hari ini hari kedua ujian akhir semester utk smpn satap wansel. Saya selaku sekretaris kepanitiaan lumayan sibuk (sok sibuk). Lumayan lelah mengawasi siswa ujian. Tapi disamping itu, rutinitas ini saya bisa bilang cukup sedikit menghilangkan kegalauanku. Yah bagaimana tidak, saya seolah bernostalgia. Mengingat masa-masa sekolah yang begitu labil. Ternyata sangat lucu melihat ekspresi siswa yg sedang ujian. Terkadang say tersenyum sendiri. Tertawa dalam hati. Ternyata begini ekspresi saya ketika sedang ujian. Mengawasi guru untuk mencari celah, kalau-kalau ada kesempatan utk mencontek atau liat contekan. Hahaha... lucu ekspresinya mereka.

Yah saya baru menyadari sekarang ini. Ternyata tanpa keahlian khusus apapaun guru bisa menerawang dari ekspresi wajah siswa mana yg otak-otak kalasi (curang) dalam ujian. Tergambar jelas di wajah mereka. Coba-cobalah jadi guru. Itu hiburan tersendiri untuk menghilangkan penat pada proses pembelajaran.

Tetap bersyukur Lia, dibalik kesusahanmu, selalu terselip kebahagiaan kecil tapi berdampak besar bagi dirimu. Alhamdulillah wa syukurillah. Tetap melihat positif semua kejadian. Buang jauh-jauh pikiran negatifmu. Hilangkan beban-beban yg mengganjal hati dan pikiranmu. Ringankan langkahmu. Mencerdaskan anak bangsa. Be strong Lia! Kamu Bisa!

Rabu, 02 Maret 2016

Menagih Janji 2



Beberapa hari yang lalu, tepatnya 29 Februari 2016 aku sudah resmi menyelesaikan studi S1-ku. Entah mengapa, aku kembali teringat akan janjimu. Kali ini bukan karena intervensiku. Ini murni inisiatifmu. Aku tak pernah menekanmu bahkan tak pernah membahasnya sedikit pun tapi tiba-tiba kau mengucapkannya.

Sebelum benar-benar mengucapkannya, terlebih dahulu kamu melihat kalender di gadgetmu. Bulan 4 yah? Kira-kira tanggal berapa? Tanyamu. Hah? Pertengahan bulan kalau nda salah. Jawabku heran. Doakan supaya saya tidak banyak kerjaan hari itu, saya ingin menghadiri wisudamu.

Aku shock ketika itu. Aku tak pernah berharap bahkan berpikir sedikit pun ke arah sana. Tapi tiba-tiba saja dia berkata seperti itu. Dia berjanji akan hadir di wisudaku. Perasaan heran bercampur bahagia pun menguasai mood-ku hari itu. Aku sempat tak menghiraukannya. Mungkin karena pikiranku terfokus pada skripsi yang sempat bermasalah.

Kini semuanya selesai. Aku kembali teringat akan janjimu. Janji yang sangat berharga bagiku. Tapi melihat sikap tak acuhmu. Mengingat jauhnya jarak yang membentang. Aku kembali mengurungkan harapanku. Aku takut terlalu berharap kau datang. Padahal sebenarnya, kau tidak pernah benar-benar memikirkan ucapan/janjimu itu. Ahhh sudahlah… waktu yang akan menjawab.